Pagi ini kembali The Killers saya putar satu album, soundnya hampir seragam dan memiliki unsur tekstual yang meledak – ledak, melirikan keberanian dalam diri yang takut. Mungkin saatnya menjadikan band ini saya masukan tracklist wajib.
Entah mengapa ketika lagu ini diperdengarkan berkali – kali, Saya merasa terwakili dari berbagai musik dan cara bernyanyi band ini.
DEWA
Agaknya pertemuan dengan musik dengan DEWA dibuka dari rekaman yang saya ditemukan di kamar adik ibu saya alias tante. Beliau memiliki kaset Dewa pada album terbaik – terbaik. Dan judul hits pertama yang saya dengar, Cukup Siti Nurbaya.
Periodik yang kala itu masih mumpuni dengan isian block gitar ala rock, membuat lagu ini sering saya putar sebelum berangkat sekolah. Perbincangan pun berlanjut saat masuk ke kantin, beberapa teman musik saya, yang kala itu baru bisa memainkan suling (recorder) mengagumi lagu ini bagus. Selalu kami mengulangi bagian melodi Andra, dan isian bass Erwin pada akhir lagu. Cukup puaslah kami melihat group band saingan kami membawakan lagu ini dan sering menang di festival lokal, karena band kami masih terlalu anak – anak dan sulit membawakan lagu itu.
Percintaan  dengan Dewa tidak berhenti begitu saja, Aku disini untukmu, mencuri perhatian saya dengan permainan Ahmad Dhani dengan keyboardnya. Suara Sine Wave itu mengusik keingintahuan.
Memang bukan lagu ini saja yang membuat Saya menjauhkan remote saya ketika nonton MTV via Anteve, lagu pembuka album Pandawa Lima berjudul Kirana, luar biasa maha dasyat. Dan sempat ada hampir adu fisik dengan kakak tingkat SMP, karena lagu ini jadi andalan saat pensi kelas 1 SMP, pensi dimana kesempatan “anak band” mencuri perhatian lawan jenis akibat perkembangan hormon yang tiada tara.
Sedihnya saat itu internet baru sebatas memberikan informasi mengenahi tentang lirik dan foto artis – artis, jarang ada review secara mendetail mengenahi lagu apalagi teknis rekamannya.
Percintaan dengan DEWA kemudian berlanjut dengan album selanjutnya, namun anehnya saat mendengarkan album mereka yang paling baru pun, keinginan mendengarkan album sebelumnnya bertambah besar. Seperti saat mendengarkan Bintang Lima, saya malah ngulik lagu Restu Boemi yang berakhir dengan hancurnya kaset itu karena terlalu sering diputar. Beberapa kaset pasti cacat kalo nguliknya kelamaan dan celakanya itu kaset – kaset DEWA dan semua pinjaman.
Kehadiran soundcard seperti jamur diakhir 98 – 99 membuat saya sedikit tercerah dari hal itu. Pelan pelan konversi MP3 mulai mengisi harddisk komputer rumahan yang masih dibawah 1 GB. Entah disadari, konversi ini mulai menggunung. Konversi yang lama – lama berjalan menjadi bakat piracy.